Die Gemuetliche Hoelle
An die Grenze zwischen Hoelle und Himmel kam ein Toter, dessen Tugend und Untugend genau gleich wogen. Deshalb konnte sich der Richter nicht entscheiden, wohin er ihn schicken sollte, Hoelle oder Himmel? Schliesslich entschied er sich, dass der Tote den Platz selbst waehlen sollte. (more…)
Apa itu cinta??? Mana y6 kau pilih..mencintai atau dicintai???
Cinta…
Apa sih makna cinta???
Siapa sih yang tau pasti makna yang tepat dari cinta? (more…)
My Favourite Quotations
“Vox populi, vox dei” (the voice of the people is the voice of God)
“Other men live to eat, while I eat to live” – Socrates (Diogenes Laertius)
“A fool oftens fails because he thinks what is difficult is easy, & a wise man because he thinks what is easy is difficult” – Churton Collins (Aphorism)
“FEAR NOT” – Genesis
“Let me assert my firm belief that the only thing we have to fear is the fear itself!” – Franklin Delano Roosevelt (1st Inaugural Address.March 4, 1933)
“I can forgive but I cannot forget, is only another way of saying ‘I cannot forgive’ ” – Henry Ward Beecher (Life Thoughts)
“The larger part of goodness is the will to become good (itaque pars magna bonitatis est velle fieri bonum) – Seneca (Epistulae ad Lucilium Epis)
“Das Erste und Letzte, was vom Genie gefordert wird, ist Wahrheitsliebe” (The first and the last thing required of genius is the love of Thruth) – Goethe (Sprueche in Prosa)
“Experience teaches slowly, & at the cost of mistakes” – James Anthony Froude (Short Studies on Great Subjects “Party Politics”)
“I leave you, hoping that the lamp of liberty will burn in your bossoms, until there shall no longer be a doubt that all men are created free and equal” -Abraham Lincoln (Speech. July 10,1858)
“He that would govern others, first should be the Master of Himself” – Phillip Massinger (The Bondman)
“Carpediem! (Rebut hari ini!)”
“Cogito ergo sum (I think therefore I am)” – Rene Descartes
“Satu-satunya yang pasti di dunia adalah ketidakpastian” – Albert Einstein
“A life without a risk is a life unlived”
“All my life changing everyday in every possible way”
“Kita enggak akan pernah tahu KAPAN, DI MANA, SIAPA, MENGAPA, & DARI MANA keindahan sebuah hati berawal” – 5 CM
‘Think outside the box!”
“Orang yang paling bijaksana adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya tidak tahu” – Socrates
“ WOMAN was created from the ribs of a man…
Not from his head to be above him,
Nor from his feet to be walk upon him.
But from his side to be equal,
Near to his arm to be protected,
and close to his heart to be loved”
Dari Hati…..
Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana.
Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, Dan direnungkan seumur hidup.
———————————————————————————-
Saya adalah ibu dari tiga orang anak Dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi.
Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.
Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.”
Belajarlah untuk berkata “Cukup”
Aku tak suka bibirku..kurang seksi. Aku ingin seperti Angelina Jolie.
Di saat yang sama seseorang berharap…
Tuhan, berikanlah aku bibir yang normal…
Aku ingin mataku berwarna biru..Akan lebih cantik bila aku punya mata
berwarna biru..
Di saat yang sama seseorang berharap..
Tuhan, kenapa kau tidak berikan aku sepasang mata untuk
melihat…
Setiap Langkah Adalah Anugerah
Seorang professor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana, ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, Ralph, penjemputnya di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan bagasi.
Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. (more…)
Berani dan Bernyali utk mengembargo diri sendiri ?
Selamat Membaca dan Mari Mengembargo diri sendiri !!
——————————————————–
Suatu pagi di bandar lampung, menjemput seseorang di bandara . Orang
itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Sebut saja si bapak.
Si bapak adalah pengusaha asal singapura, dengan logat bicara gaya
melayu , english, (atau singlish?) beliau menceritakan pengalaman2
hidupnya kepada kami yang masih muda. Mulai dari pengalaman bisnis,
spiritual, keluarga, bahkan percintaan hehehe..
“Your country is so rich!”
Ah biasa banget kan denger kata2 begitu. Tapi tunggu dulu..
” Indonesia doesnt need d world, but d world need Indonesia “
TERNYATA ROKOK TIDAK BERBAHAYA
Banyak orang menghawatirkan bahaya rokok dan menakutinya, tapi setelah diselidiki oleh beberapa pakar dalam bidangnya ternyata rokok itu sama sekali tidak berbahaya. Kemudian para pakar sepakat untuk membuktikannya dengan mengambil dari beberapa hikayat pada zaman dahulu kala di mana pada waktu itu nenek moyang kitapun telah membuktikannya melalui beberapa percobaan, buktinya seperti cerita di bawah ini…
* * * * *
Pada zaman dahulu kala, ada tiga orang dokter…. Mereka selalu bersama kemana saja mereka pergi. Tapi ketiga-tiganya memiliki kegemaran berlainan.
- dr. Ali (suka main perempuan)
- dr. Benu (suka minum minuman keras)
- dr. Cono (suka segala jenis rokok)
Suatu hari ketiga sahabat ini berjalan jalan tanpa tujuan. Tiba-tiba ketiganya bertemu dengan sebuah ketel/kendi (seperti cerita Aladin).
Lalu salah seorang mengambilnya lalu meng-gosok2kan ketel tersebut.
Sejurus kemudian asap keluar dari corong ketel tersebut dan secara Ааааperlahan berganti menjadi satu makluk yang menyeramkan yakni sesosok Ааааjin yang ganas. Lalu jin tersebut tertawa: Ha ha ha… dan berkata, Akulah Jin Ifrit!
Karena kamu telah membebaskan aku dari ketel itu maka aku akan tunaikan apa saja permintaan kamu sekalian. Ketiga sahabat yang pada mulanya panik dan takut menjadi gembira lalu termenung dan berpikir tentang peluang dan kemauan masing-masing yang mungkin hanya sekali mereka jumpai dalam hidup mereka. Lalu mereka memilih kemauan mengikuti kegemaran masing-masing. .
Berkatalah Ali, “Aku mau perempuan-perempuan muda dari berbagai bangsa di seluruh dunia dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun”
Pufff ……..!
dengan sekejap mata jin itu menyempurnakan permintaan Ali…
Berkata Beno, “Aku mau semua jenis arak dari seluruh dunia untuk bekal selama sepuluh tahun dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun”
Pufff ……..!
dengan sekejap mata jin itu menyempurnakan permintaan Benu.
Berkata pula Cono, “Aku mau semua jenis rokok dari seluruh dunia untuk bekal selama sepuluh tahun dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun”.
Pufff ……..!
dengan sekejap mata jin itu menyempurnakan permintaan Cono.
Setelah genap 10 tahun, maka jin tersebut muncul kembali untuk membuka pintu gua masing-masing sebagaimana yang dijanjikan. Maka jin tersebut pergi membuka pintu gua si Ali, ketika dibuka maka keluarlah si Ali dengan keadaan kurus kering, berdiri pun tidak bisa karena tidak sanggup untuk menggerakkan lutut sebab hari-hari hanya memuaskan nafsu dengan perempuan.
Tiba-tiba si Ali pun jatuh ke tanah lalu mati !!
Setelah itu jin tersebut pergi ke gua si Benu, ketika pintu dibuka maka keluarlah si Benu dengan perut yang sangat buncit karena hari-hari mabuk-mabukan. Jalan pun terhuyung-huyung.
Tiba-tiba si Benu pun jatuh ketanah lalu mati !!
Setelah itu jin pergi ke gua si Cono dan membuka pintu gua. Tiba2 si Cono keluar dalam Ааааkeadaan sehat walafiat dan terus MENAMPAR si jin. Sambil memaki si jin ia berkata: JIN GUOBLUOOOKK ….!!! KOREKNYA MANA .. ??
———————————
Cerita usang orde baru
Suatu hari Try Sutrisno yang kala itu masih menjabat Wapres berkunjung ke Singapore . Dia diterima oleh Le Kuan Yew dan Goh chok Tong. Ketika lagi dinner, Pak Try menanyakan sesuatu.
Pak Try : Pak Lee, kok Singapore bisa maju banget. Gimana caranya sih?
Lee : Yang penting cari SDM yang tepat.
Pak Try : Cari SDM yang tepat gimana caranya?
Lee : Gampang. Cukup tanya dengan 1 pertanyaan.
Pak Try : Pertanyaannya gimana?
Lee : Lihat, saya mau bertanya sama Goh Chok Tong. Hey Goh Chok Tong. Ada anak orang tuamu. Dia bukan kakakmu dan juga bukan adikmu. Pertanyaan saya, siapakah nama anak itu?
Goh Chok Tong tanpa berpikir menjawab : Ya Goh Chok tong.
Lee : Lihat kan Pak Try? Goh Chok Tong bisa menjawab dengan cepat tanpa berpikir. Makanya saya tidak meragukan kemampuannya sebagai SDM yang bagus.
Alkisah, pulanglah Pak Try ke Indonesia . Sampai di istananya dia langsung memanggil Harmoko untuk mencoba ngetest kemampuannya. Waktu itu Harmoko masih jadi Menteri Penerangan. Begitu Harmoko menghadap, Try langsung bertanya : Hey Harmoko. Coba jawab pertanyaan saya : Ada anak orang tuamu. Dia bukan kakakmu dan juga bukan adikmu. Pertanyaan saya, siapakah nama anak itu?
Harmoko bingung. Wah susah banget nih pertanyaannya? Pikirnya.
Try : Kamu ga tau jawabannya? Bodoh sekali. Kamu bukan SDM yang bagus. Pantes Negara kita ga maju2.
Akhirnya dengan rasa malu dia minta izin sehari untuk memikirkan jawabannya. Try setuju. Diam2 Harmoko pergi ke Menristek Habibie yang terkenal dengan keenceran otaknya.
Harmoko : Habibie tolong bantu saya. Pak Try ngasih saya pertanyaan sulit.
Habibie tersenyum : Apa pertanyaannya?
Harmoko : Ada anak orang tuamu. Dia bukan kakakmu dan juga bukan adikmu. Pertanyaannya, siapakah nama anak itu?
Habibie menjawab tanpa berpikir : Ya Habibie.
Harmoko girang bukan main. Dia segera pergi ke istana Wapres. Saking girang udah tau jawabannya dia langsung masuk dan berhadapan dengan Pak Try.
Harmoko : Pak Try saya udah tau jawabannya. Coba Pak Try ulang pertanyaannya.
Pak Try : OK. Ada anak orang tuamu. Dia bukan kakakmu dan juga bukan adikmu. Pertanyaan saya, siapakah nama anak itu?
Harmoko : Ya habibie.
Pak Try : Salah!! Salah!!! Kamu bodoh sekali!!!
Harmoko heran bukan main. Kok bisa salah? Habibie mana mungkin bisa salah? Dia kan jenius otaknya. Karena penasaran Harmoko bertanya.
Harmoko : Yang bener jawabannya apa?
Dengan senyum melecehkan dan dengan paras orang pintar Pak Try menjawab.
Pak Try : Jawaban yang betul adalah Goh Chok Tong.
<Haaaaa??? GubRaKzzzzzz…>
Sandal Jepit Isteriku
Selera makanku mendadak punah. hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.
“Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.
“Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem.
“Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!” Jawabku masih dengan nada tinggi.
Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.
*******
Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.
“Ummi… Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?” ucapku sambil menggeleng-gelengka n kepala. “Ummi… isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?”
Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng.. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.
“Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.
Hamil muda?!?! Subhanallah … Alhamdulillah…
********
Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. “Aduh, Mi… Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku.
“Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku.
“Lho, kok bilang gitu…?” selaku.
“Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa, ” ucap isteriku lagi.
“Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan.
*******
Pertemuan dengan mitra usahaku hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin.
Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Kuperhatikan ada inisial huruf M tertulis di sandal jepit itu. Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.
“Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku.
“Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidah (*) ku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.
Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurang an isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya. “
Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!
“Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.
“Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini.
“Ah, betapa manisnya wajah istriku ketika sedang kegirangan… kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.
******
Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya.. “Alhamdulillah, jazakallahu. ..,” ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan.
Ah, Maryamku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan ‘iffah (***) sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?
(Oleh : Yulia Abdullah)
Keterangan
(*) mujahidah : wanita yang sedang berjihad
(**) zuhud : membatasi kebutuhan hidup secukupnya walau mampu lebih dari itu
(***) ‘iffah : mampu menahan diri dari rasa malu